Kamis, 10 September 2009

SENIMAN INDONESIA

Djoko Pekik

Nama :

Djoko Pekik

Lahir :

Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah,

2 Januari 1937

Pendidikan :
Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta (1957-1962)











Djoko Pekik mendapat julukan pelukis satu miliar, karena lukisannya, Indonesia 1998 Berburu Celeng, terjual seharga Rp 1 miliar dalam satu pameran di Yogyakarta, tahun 1999. Berburu Celeng bersama dua lukisan lain, Susu Raja Celeng (1996) dan Tanpa Bunga dan Telegram Duka Cita 2000, merupakan sebuah trilogi. Trilogi ini merupakan lukisan yang paling berkesan baginya diantara 300 karya lukisnya.

Cita-citanya waktu kecil ingin jadi lurah kaya dan punya gamelan. Walau tak jadi lurah, ia sudah dapat membeli dua perangkat gamelan. Djoko Pekik—yang artinya pemuda tampan—sebenarnya tak mewarisi darah seni dari orangtuanya. Senang melukis sejak kecil, ia sendiri menyebut dirinya berbakat kesasar. Ayah dan ibunya petani, yang buta huruf dan tinggal di tengah hutan jati di daerah Purwodadi, Jawa Tengah. Djoko kecil juga senang bermain sandiwara. Ketika memerankan tokoh Kelenting Kuning dalam Ande-Ande Lumut, ia menggambar sendiri pakaian tokoh yang dimainkannya.

Tak lulus SD dan pendidikan menengah, bungsu dari 12 bersaudara ini—melanjutkan sekolah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta, 1957-1962. “Namun kematangan melukisnya bukan di ASRI tapi di Sanggar Bumi Tarung. “Karena di ASRI saya anggap hanya belajar teknik melukis”,”ujarnya. Sanggar Bumi Tarung merupakan sanggar seniman yang anggota-anggotanya berafiliasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi yang bernaung di bawah Partai Komunis Indonsia (PKI). “Tahun 1964, saya sudah menjadi pelukis terkenal”,”kata Djoko. Peristiwa G30/S 1965, mengakibatkan banyak kader PKI dan ormas-ormasnya, termasuk Lekra, ditangkap dan dipenjarakan.

Awal Bencana di Lintang Kemukus 1965 (2003)

cat minyak diatas kanvas, 115 X 140

Djoko sendiri ditahan dari 8 November 1965 sampai 1972 di Penjara Wirogunan, Yogyakarta. “Selama di penjara, saya vakum melukis”,”ujar ayah dari delapan anak ini. Ia merasa beruntung tidak mati karena kelaparan dan siksaan, walau pendengarannya sedikit terganggu karena sering dipukul dengan popor senjata. Selepas dari penjara, bahkan sampai tahun 1990, ia masih dikucilkan oleh saudara, tetangga, dan sesama seniman yang berhaluan lain.

Menikah dengan C.H. Tini Purwaningsih yang terpaut 14 tahun pada tahun 1970, saat masih berstatus tahanan kota. Setelah menikah, 1970-1987, untuk menyambung hidup, Djoko menjadi tukang jahit. Tapi profesi ini tak membuat kehidupan ekonomi keluarganya mantap. Nasib baik akhirnya datang juga. Suatu ketika karya-kartanya dijadikan bahan penelitian untuk disertasi pelukis Astari Rasyid, yang kemudian dibaca oleh kenalan-kenalannya dari luar negeri. Pada tahun 1989, Djoko diikutkan dalam pameran di Amerika, yang diprotes banyak seniman Indonesia karena status tahanan politiknya.

Beritanya masuk koran dan majalah, yang justru membuatnya makin terkenal. Sejak itulah para kolektor memburu lukisannya. Sampai suatu ketika ia tak mau menjualnya lagi, karena tamu-tamunya dapat setiap saat melihat dan mengaguminya. Lukisannya oleh banyak kalangan pengamat dinilai berbeda antara satu dan lainnya. Padahal, ia mengaku bahwa teknik lukisnya dari dulu sampai sekarang sama saja.

Karena kepahitan yang pernah dialaminya sebagai pelukis, Djoko tidak mengarahkan anak-anaknya menjadi pelukis. Selain itu, ia merasa kalau seorang ayah pelukis, bila anak-anaknya juga jadi pelukis, mereka tak akan mampu melebihi sang ayah. Kini ia menempati rumah yang “menyatu” dengan alam, dengan tiga bangunan bertingkat yang besar, lengkap dengan ruang gamelan pribadi dan umum, ruang keluarga, galeri, dan studio.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar