Kamis, 10 September 2009

Seniman Tisna Sanjaya

Tisna Sanjaya

Tisna Sanjaya dilahirkan di Bandung pada tahun 1960. Bakat seni Tisna terlihat sejak kecil. Ia sering menggambar di tembok-tembok rumah. Kendati orangtuanya pedagang ayam namun mereka sangat mendukung bakat seninya. Ini karena lingkungan rumahnya tak jauh dari kesenian.

Waktu SMP, dia juara menggambar di sebuah lomba yang diadakan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Meski juara satu, nilai menggambar di rapornya mendapat lima. Ini karena ada temannya yang menukar dengan paksa gambarnya ketika ujian untuk dinilai, sehingga gambar jelek temannya itulah yang diterimanya.

Masa sekolah banyak dihabiskannya di Jalan Braga, pengagum lukisan-lukisan Chan Tanjung, Rusli, dan karya-karya Moi Indie lainnya. Bahkan lukisannya yang memenangkan lomba BKKBN meniru gaya Rusli. Berkuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan seni rupa selama dua tahun dan dilanjutkannya ke ITB selama 1979-1986. Di ITB inilah ia berkenalan dengan dunia happening art dari kelas eksperimen kreatif yang diajarkan G. Sidharta.

Setelah menyelesaikan S2-nya di Jerman, ia meneruskan program lanjutan untuk S3 di tempat yang sama pada 1997-1998. Sejak lulus dari Seni Rupa ITB (1986) Tisna sangat produktif berkarya dan aktif berpameran baik tunggal maupun kelompok. Karena aktivitas dan intensitas berkaryanya, serta terobosan kreativitasnya sosok Tisna Sanjaya dan karya-karyanya banyak mengundang perhatian dan kupasan para pengamat seni rupa di Indonesia.

Seniman Utopia,

Akrilik charcoal diatas kanvas,

130 x 120 cm, 2008

Wacana berkarya yang dikembangkan Tisna banyak ditanggapi, diikuti dan dinegasi oleh seniman-seniman lainnya terutama generasi yang lebih muda. Sejak 1995-an Tisna banyak mendapat perhatian dari para pengamat seni rupa Indonesia dan bahkan internasional karena karya-karyanya banyak mengungkapkan tema-tema kepincangan sosial dan politik di Indonesia, terutama semasa Soeharto masih berkuasa. Karya-karya Tisna pada masa itu cenderung ke seni abstrak yang menjauhkan diri dari realitas sosial dan lebih berorientasi pada persoalan dalam diri (mikrokosmos) senimannya, atau tema-tema yang universal.

Tisna melakukan terobosan dengan mendobrak tradisi formalisme seni grafis di ITB, dengan mulai membuat karya-karya bertema permasalahan sosial politik di Indonesia. Dari semua itu tampaknya yang masih tetap ia perjuangkan adalah perlawanan terhadap kekerasan.

Tisna juga selalu perduli terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan. Seperti ia menyertakan karyanya didalam pameran solidaritas untuk sang empu tari Mimi Rasinah”yang terbaring sakit serta korban musik Underground di bandung 2008. Selain aktif dalam senirupa, Tisna juga di daulat memerankan sosok kabayan dalam acara di televisi setempat di Bandung, STV yang mengangkat kenyataan sehari-hari yang dialami warga. Ia tertarik memerankan tokoh kabayan karena sejak kecil ia suka kabayan selain Batman, Zoro, dan tarzan. Ia ingin memerankan tokoh Zoro sang pembela rakyat yang tertindas dalam konteks di tatar Sunda.


Nama :

Tisna Sanjaya

Lahir :

Bandung, Jawa Barat

28 Januari 1958

Pendidikan :

Jurusan Seni Rupa

IKIP Bandung,

Jurusan Seni Rupa

ITB Bandung (1979-1986),

Diplom Freie Kunsthochschule Fuer Bildende Kuenste Braunscheweig (1991-1994),

Meister Schueler by Prof. Karl-Christ Schulz (DAAD fellowship) HBK Braunschweig Jerman (1997-1998)

Profesi :

Seniman,

Pengajar di ITB

Penghargan :

Program artist in residencies di HBK Braunschweig Jerman

(1987-1988),

Program artist in residencies di National Art Gallery

Kuala Lumpur, Malaysia (1989),

Program artist in residencies di Utrecht, Belanda (1996),

Program artist in residencies di Ludwig Forum for International Art Aachen, Jerman (2001)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar